Media Sinergitas TNI-Polri News,PEMATANGSIANTAR, 27 Mei 2026 –
Di tengah hiruk-pikuk perayaan ulang tahun ke-79, PMKRI Cabang Pematangsiantar Santo Fransiskus dari Assisi memilih jalan yang berbeda. Tidak ada seremoni mewah; yang ada justru langkah kaki yang menapaki tumpukan sampah di TPA Tanjung Pinggir. Hari ini, para mahasiswa Katolik ini datang membawa buku dan harapan, menyapa anak-anak yang setiap harinya harus “berteman” dengan aroma menyengat dan kepulan asap demi meraih pendidikan.
Aksi bakti sosial yang melibatkan para Frater, Suster, serta seluruh kader PMKRI ini menjadi refleksi mendalam atas usia organisasi yang hampir delapan dekade. Di rumah belajar sederhana—sebuah oasis yang diinisiasi oleh para rohaniwan di kawasan pembuangan sampah tersebut—para kader berbaur, berbagi logistik, dan mendampingi anak-anak belajar.
Ketua Presidium PMKRI Cabang Pematangsiantar, Fransisco Mezgion Hutauruk, menatap realitas ini dengan dada yang sesak. Baginya, pemandangan anak-anak yang belajar di tengah polusi sampah adalah potret kelam yang menampar nurani publik dan pemerintah.
“Sangat ironis melihat mimpi-mimpi anak bangsa harus diperjuangkan di tengah kepulan asap racun. Di mana kehadiran negara? Apakah mereka menunggu hingga kesehatan generasi ini benar-benar hancur? Kami menuntut aksi nyata, bukan sekadar janji-janji manis saat musim politik tiba,” ujar Fransisco dengan nada tajam namun penuh haru.
Mengubah “Viralitas” Menjadi “Veritas”
Usai menuntaskan aksi kemanusiaan, para kader melanjutkan refleksi di Margasiswa Taktis PMKRI dalam agenda Malam Fraternitas. Membedah tema nasional “Dari Viralitas ke Veritas”, Fransisco mengingatkan bahwa kader PMKRI tidak boleh menjadi generasi yang haus popularitas sesaat di media sosial.
“Dunia digital sering kali menjebak kita dalam viralitas yang dangkal. PMKRI memilih jalan Veritas atau kebenaran. Kami dididik untuk menjadi intelektual yang berbasis riset dan kepakaran, yang semua ilmunya didedikasikan untuk kemanusiaan,” tegasnya.
Suasana semakin menghangat saat senior PMKRI, Daud Hutagalung, memberikan wejangan bagi para kader muda. Beliau menekankan bahwa menjadi mahasiswa Katolik berarti harus memiliki kepekaan sosial yang tajam.
“Jangan pernah jadi penonton di tengah ketimpangan. Kepekaan sosial adalah napas perjuangan kita. Teruslah mengasah diri, jadilah motor penggerak perubahan yang turun langsung ke akar rumput,” pesan Daud, yang disambut gemuruh semangat para peserta.
Ajakan Peduli untuk Masa Depan
Tidak hanya mengkritik pemerintah, PMKRI Pematangsiantar juga mengajak seluruh warga Pematangsiantar untuk mengambil peran dalam menjaga lingkungan. Fransisco menyerukan kesadaran bersama untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
“Setiap sampah yang kita buang dengan sembarangan hari ini, adalah racun tambahan bagi napas anak-anak di TPA esok hari. Mari jaga bumi ini, dimulai dari rumah kita sendiri,” ajaknya dengan penuh harap.
Dies Natalis ke-79 ini ditutup dengan komitmen kuat: PMKRI akan terus menjadi penyambung lidah rakyat yang tertindas. Di usia yang semakin matang, PMKRI Pematangsiantar menegaskan bahwa perjuangan intelektual yang paling mulia adalah perjuangan yang berpihak pada mereka yang paling membutuhkan, Pro Ecclesia et Patria.(KDM07)




