Scroll Untuk Lanjut Membaca

Media Sinergitas TNI-Polri News,PEMATANGSIANTAR, 9 Juni 2026 —

Di tengah hiruk-pikuk rutinitas, para kader PMKRI Cabang Pematangsiantar Santo Fransiskus dari Assisi memilih untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan menatap ke dalam diri. Pada Senin (8/6/2026), Margasiswa Taktis menjadi saksi hangatnya ruang refleksi bertajuk “Knowing Yourself” (Mengenal Diri Sendiri).

​Bukan sekadar pertemuan formal, diskusi ini menjadi pelukan bagi jiwa-jiwa muda yang sedang berproses. Menghadirkan saudari Ananda Nainggolan sebagai pemantik, suasana diskusi mengalir begitu teduh, jauh dari kesan kaku.

​Memahami Diri Sebagai Langkah Awal Kedamaian
​Dalam paparannya, Ananda mengajak peserta untuk menyadari bahwa perjalanan paling panjang bukanlah menaklukkan dunia, melainkan perjalanan mengenal diri sendiri.

​”Mengenal diri adalah bentuk kasih sayang pada diri sendiri. Ketika kita jujur akan kelebihan dan kekurangan kita, di situlah kita menemukan fondasi yang kokoh untuk bertumbuh dengan tenang,” ungkap Ananda dengan penuh penekanan yang menyejukkan.

​Ruang Aman untuk Saling Berbagi
​Keistimewaan diskusi ini terletak pada keberanian para kader untuk terbuka. Alih-alih berdebat, ruangan tersebut diisi dengan sesi berbagi yang penuh empati.

Para peserta dengan tulus menceritakan perjalanan hidup mereka mulai dari rasa percaya diri yang sedang dipupuk hingga tantangan manajemen waktu yang seringkali menguji kesabaran.

​Di Margasiswa Taktis, perbedaan pengalaman bukan menjadi sekat, melainkan benang merah yang menyatukan mereka. Tidak ada penghakiman; yang ada hanyalah dukungan untuk saling menguatkan. Peserta yang mahir dalam kepemimpinan merangkul mereka yang sedang berjuang dengan rasa percaya diri, menciptakan harmoni dalam pertumbuhan bersama.

​Menumbuhkan Kerendahan Hati
​Kegiatan ini ditutup dengan semangat yang menenangkan. Para kader diajak untuk menyadari bahwa setiap kelebihan adalah anugerah yang harus dikembangkan, sementara setiap kekurangan adalah ruang bagi kerendahan hati untuk terus belajar.

​PMKRI Pematangsiantar berharap agar percakapan hari itu tidak menguap begitu saja bersama waktu, melainkan menetap di hati sebagai kompas kehidupan. Sebab, perubahan besar tidak selalu diawali dengan langkah yang gegap gempita, melainkan dengan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dalam kesunyian yang tenang.

​Di sini, di antara sahabat dan semangat yang satu, setiap kader diingatkan bahwa mereka tidak sedang berjuang sendirian.