Scroll Untuk Lanjut Membaca

Media Sinergitas TNI-Polri News,MEDAN

Kota Medan hari ini (15/7/2026) menjadi saksi bisu kemarahan mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Peduli Desa (GEMAPEDES). Titik-titik vital seperti Fly Over Jamin Ginting, Fly Over Amplas, hingga gerbang utama Mapolda Sumut dan Kejati Sumut “dikepung” dengan spanduk bernada keras yang menuntut transparansi total atas skandal narkoba yang menyeret personel Polres Samosir.

Aksi ini bukan sekadar protes biasa. Ini adalah bentuk mosi tidak percaya terhadap narasi yang dibangun pihak kepolisian terkait dugaan keterlibatan dua oknum Polres Samosir, berinisial ES dan DW, dalam peredaran sabu.

“Polisi atau Content Creator?”
Sorotan tajam tertuju pada gaya kepemimpinan di Polres Samosir. Dengan memasang spanduk bertajuk “#ContentCreatorMerangkapKapolres”, GEMAPEDES secara terbuka menyindir bahwa Polres Samosir lebih sibuk mengurusi pencitraan di media sosial daripada menuntaskan borok internal yang menggerogoti institusi.

“Publik muak dengan gimik. Kami menuntut bongkar tuntas dugaan peredaran narkoba di Samosir yang diduga kuat di-back-up oleh oknum internal Polres sendiri,” tegas Ketua Badan Pengurus GEMAPEDES, Darma Wijaya Naibaho.

Satu Bulan Ditutup-tutupi: Ada Apa?
Kecurigaan GEMAPEDES semakin menguat setelah menemukan kejanggalan kronologis. Meski kedua oknum tersebut dilaporkan diamankan pada 2 Juni 2026, informasi tersebut baru bocor ke publik setelah mahasiswa melakukan konsolidasi besar-besaran.

Jeda waktu 1 bulan yang sengaja “disembunyikan” dianggap sebagai upaya sistematis untuk meredam kasus atau melindungi pihak tertentu.
GEMAPEDES mempertanyakan integritas penanganan perkara ini: Apakah ini bentuk perlindungan terhadap anggota (impunitas) atau ada jaringan yang lebih besar yang sedang ditutupi?

12 Laporan Terbengkalai, Kepercayaan Publik di Titik Nadir
Tak hanya kasus sabu, Sekretaris Badan Pengurus GEMAPEDES, Rafael Sinaga, membongkar fakta memprihatinkan. Terdapat setidaknya 12 laporan masyarakat di Polres Samosir yang mangkrak dan tanpa kejelasan progres.

“Kami mencium bau tidak sedap dalam manajemen perkara di Polres Samosir. Ada dua kasus besar lainnya yang sedang kami bedah. Polisi jangan hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Jika tidak mampu transparan, jangan salahkan jika kami menuntut reformasi total di jajaran Polres Samosir,” ungkap Rafael.

Ultimatum Mahasiswa: Aksi Lanjutan Menanti
GEMAPEDES menegaskan bahwa pemasangan spanduk ini hanyalah pemanasan. Jika pihak berwenang terus bergeming dan memilih bungkam, mahasiswa tidak akan segan-segan mengerahkan massa dalam jumlah besar untuk menduduki Mapolres Samosir dan Mapolda Sumut.

Pesan utama GEMAPEDES kepada Polres Samosir:
Transparansi Kronologi: Jelaskan secara rinci penangkapan ES dan DW tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Audit Kinerja: Evaluasi total terhadap penanganan 12 laporan masyarakat yang terabaikan.
Berhenti Gimik: Fokus pada penegakan hukum nyata, bukan sekadar memoles citra di media sosial.(Kdm07)