Media Sinergitas TNI-Polri News,Kalimantan Timur – 22 April 2026 .
Peristiwa 21 April kemarin bukan hanya tentang kericuhan atau tuntutan hak angket, melainkan tentang runtuhnya etika kepemimpinan di Kalimantan Timur. Di balik kawat berduri yang melilit Kantor Gubernur, kita menyaksikan sebuah drama kepemimpinan yang sangat menyayat hati, sebuah tontonan tentang keangkuhan yang dipertontonkan secara telanjang oleh seorang Rudy Mas’ud.
Media melaporkan betapa tegangnya suasana saat massa mulai kecewa karena tidak ditemui. Namun, puncak dari segala ironi adalah ketika Gubernur Rudy Mas’ud akhirnya keluar dari kantornya untuk menuju Rumah Jabatan—yang sejatinya masih berada dalam satu kompleks yang sama.
Bukannya menghampiri rakyat atau setidaknya menunjukkan empati, sang pemimpin justru berjalan dengan pengawalan ketat, melewati deretan aparat keamanan yang sudah berdiri tegak sejak pagi buta demi menjaga simbol negara.
Sebagai warga, saya melihat sebuah ketimpangan moral yang luar biasa. Di satu sisi, jajaran kepolisian dari Polda Kaltim hingga Polresta. Media /pers Samarinda telah menunjukkan profesionalisme yang luar biasa. Kapolda dan Kapolres turun langsung memastikan situasi terkendali. Hebatnya lagi, polisi tetap bersikap humanis; tidak ada satu pun selongsong gas air mata yang ditembakkan meskipun suasana memanas. Mereka melindungi Kantor Gubernur seolah melindungi rumah mereka sendiri.
Namun apa balasannya? Gubernur turun dari kantornya dengan wajah yang dingin. Tidak ada satu patah kata pun ucapan terima kasih, tidak ada anggukan kepala, bahkan tidak ada apresiasi bagi para prajurit Polri yang berdiri tepat di dekatnya. Padahal, keselamatan sang Gubernur saat itu ada di pundak mereka. Ini bukan lagi soal protokol, ini soal adab!.
Bagaimana mungkin seorang pemimpin merasa begitu “besar” hingga merasa tidak perlu lagi berterima kasih kepada mereka yang menjaganya? Apakah jabatan Gubernur telah mengubah seseorang menjadi begitu jumawa hingga menganggap keberadaan aparat dan rakyat hanya sebagai gangguan dalam perjalanan singkatnya menuju rumah dinas?
Kejadian ini memberikan pesan yang sangat pahit bagi kita semua. Kawat berduri itu ternyata tidak hanya dipasang untuk menghalau demonstran, tetapi seolah menjadi cermin dari hati sang pemimpin yang sudah terpagari dari rasa syukur dan kerendahan hati.
Rakyat tidak hanya melihat apa yang Anda bangun dengan APBD, rakyat juga melihat bagaimana Anda memperlakukan sesama manusia. Jika kepada aparat yang menjaga nyawanya saja Gubernur bisa bersikap begitu sombong, lantas bagaimana ia akan memperlakukan rakyat kecil yang hanya ingin suaranya didengar?.
Kalimantan Timur tidak butuh pemimpin yang hanya butuh aparat saat terdesak tapi lupa berkata “terima kasih” saat melintas. Marwah seorang pemimpin tidak terletak pada kemewahan rumah jabatan, tapi pada kerendahan hatinya untuk menghargai setiap keringat mereka yang bertugas di lapangan.
Laporan Hendra Sitorus Berau




