Media Sinergitas TNI-Polri News,SIMALUNGUN –
Kondisi jalan provinsi di Jl. Asahan, Marihat Baris, Kecamatan Siantar, kini berada di titik nadir. Alih-alih mendapatkan perbaikan permanen, jalan yang menjadi urat nadi mobilitas warga ini justru dibiarkan hancur lebur, memaksa warga sekitar turun tangan dengan cara yang memilukan.
Pemandangan ironis terlihat di lapangan. Warga, salah satunya seorang pria bermarga Siagian, tampak sibuk menimbun lubang-lubang maut di tengah jalan menggunakan sisa pecahan bangunan. Aksi ini telah ia lakukan selama tiga hari berturut-turut. Namun, di balik inisiatif kemanusiaan tersebut, terselip sisi pahit: ia terpaksa mengharapkan belas kasihan pengguna jalan sebagai sumber penghasilan untuk menyambung hidup di tengah kondisi jalan yang rusak parah.
Warisan “Tambal Sulam” yang Tak Berujung
Kekecewaan warga kian memuncak karena buruknya infrastruktur ini dianggap sebagai masalah kronis yang tak pernah terselesaikan. Sejak era kepemimpinan JR Saragih hingga saat ini, penanganan jalan di wilayah tersebut dinilai hanya sebatas “tambal sulam” ala kadarnya yang tak bertahan lama.
Warga Simalungun kini mulai bersuara keras, mempertanyakan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Simalungun. Inisiatif Bupati Anton Saragih pun kini di bawah sorotan tajam dan dinilai seolah “tutup mata” terhadap penderitaan rakyatnya yang setiap hari harus bertaruh nyawa melintasi lubang-lubang di jalan provinsi tersebut.
Desakan Keras GEPPAR
Melihat kondisi yang semakin memprihatinkan, Gerakan Pendukung Presiden Dan Aspirasi Rakyat (GEPPAR) melayangkan protes keras. Mereka mendesak Pemerintah Kabupaten Simalungun untuk tidak lagi berpangku tangan.
“Ini bukan lagi sekadar masalah kenyamanan, ini sudah menyangkut keselamatan jiwa. Jangan tunggu ada korban nyawa baru pemerintah bertindak. Kami mendesak Pemkab Simalungun untuk segera mengambil langkah konkret dan permanen, bukan lagi sekadar polesan yang habis diguyur hujan,” tegas Ketua GEPPAR.
Warga kini menunggu aksi nyata. Apakah jeritan rakyat di Jl. Asahan ini akan didengar, atau hanya akan menjadi potret buram yang terus berulang di Kabupaten Simalungun? . (KDM07)




