Media Sinergitas TNI-Polri News,Pariaman —
Sulam peniti merupakan salah satu kerajinan khas dari Pariaman, Sumatera Barat yang dikenal karena keunikan teknik dan keindahan motifnya. Berbeda dengan sulaman pada umumnya, sulam peniti menggunakan benang dan jarum sebagai elemen utama pembentuk motif, sehingga menghasilkan tekstur dan tampilan yang khas, elegan, serta bernilai seni tinggi. Di tangan para perajin yang telaten, sulam peniti tidak hanya menjadi simbol warisan budaya, tetapi juga peluang ekonomi yang menjanjikan.
Salah satu sosok yang turut mengangkat nilai ekonomi kerajinan ini adalah Ny. Arnengsih Hanafis. Selain dikenal sebagai pengrajin sulam peniti, beliau juga merupakan anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang LXII Dim 0308 Pariaman dan berperan aktif sebagai ibu rumah tangga.
Di tengah kesibukannya mendampingi suami serta mengurus keluarga, Ny. Arnengsih tetap konsisten menekuni keterampilan menyulam yang telah ia pelajari dan kembangkan dengan penuh kesabaran. Sulam peniti merupakan kerajinan turun temurun dari nenek moyang, dan Ny. Arnengsih Hanafis melanjutkannya semenjak tahun 2013 saat suami pindah ke tanah kelahirannya di Kota Pariaman.
Proses pembuatan sulam peniti bukanlah pekerjaan yang mudah. Setiap sulaman disusun dan dijahit secara hati-hati mengikuti pola tertentu hingga membentuk ragam hias bunga, daun, maupun motif khas Minangkabau.
Ketelitian dan ketekunan menjadi kunci utama dalam menghasilkan karya yang rapi dan bernilai tinggi. Untuk satu produk dengan desain rumit, pengerjaannya bisa memakan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu.
Berawal dari pesanan di lingkungan sekitar dan sesama anggota Persit, karya Ny. Arnengsih perlahan dikenal lebih luas. Dengan memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi, sulam peniti buatannya mulai diminati oleh konsumen dari berbagai daerah. Produk yang dihasilkan pun beragam, mulai dari jilbab, baju kurung, abaya, bahkan sandal dan aksesori busana yang tampil elegan dan eksklusif.
Tidak hanya berfokus pada produksi, Ny. Arnengsih juga berbagi keterampilan kepada ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya. Langkah ini membuka peluang tambahan penghasilan bagi mereka sekaligus menjaga kelestarian sulam peniti sebagai warisan budaya daerah. Kegiatan tersebut menjadi wujud nyata pemberdayaan perempuan melalui kerajinan tangan.
Kisah Ny. Arnengsih Hanafis membuktikan bahwa peran ibu rumah tangga dan anggota Persit tidak terbatas pada urusan domestik semata. Dengan tangan terampil dan semangat pantang menyerah, ia mampu mengangkat sulam peniti Pariaman menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Dari rumah sederhana, lahir karya-karya yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian keluarga dan masyarakat sekitar.
Melalui dedikasi dan ketekunannya, sulam peniti Pariaman terus berkembang dan semakin dikenal luas. Tangan terampil seorang Ibu Persit telah menjadi simbol bahwa warisan budaya dapat menjadi sumber kekuatan ekonomi sekaligus kebanggaan daerah. Semangat tersebut semakin diperkuat melalui partisipasi dalam ajang Persit Bisa, sebuah kegiatan yang diinisiasi oleh Ketua Umum Persit Kartika Chandra Kirana ini dapat memberikan ruang bagi anggota Persit untuk menampilkan kreativitas, keterampilan, serta potensi usaha yang mereka miliki.
Kegiatan yang akan dilaksanakan pada bulan Mei di Jakarta ini memungkinkan para pelaku usaha rumahan, termasuk pengrajin sulam peniti Pariaman, mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat yang lebih luas. Keikutsertaan dalam ajang tersebut tidak hanya menjadi sarana promosi, tetapi juga bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi keluarga prajurit.
Dengan berbagi pengalaman, memperluas jejaring, serta membuka peluang pasar baru, sulam peniti Pariaman diharapkan mampu terus berkembang sebagai produk kerajinan khas daerah yang bernilai ekonomi tinggi sekaligus menjadi kebanggaan budaya.(Red)




